fbpx

Ada Apa Dengan Bawang?

Di Indonesia, bagi sebagian vegetarian dan vegan, bawang merupakan hal yang sangat sacral untuk dikonsumsi. Banyak dari mereka yang menhindari mengonsumsi bawang di diet mereka. Tetapi sebenarnya kenapa. Bukankah bawang merupakan tumbuhan sehingga aman dikonsumsi di diet vegan atau vegetarian? Lantas, kenapa mereka begitu dibenci oleh para vegan dan vegetarian di Indonesia?

Sejarah

Ternyata, ini semua berakar pada salah satu agama di Indonesia yaitu Buddha. Pada jaman dahulu, bawang putih, bawang merah, bawang Bombay dan anggota lain dari genus Allium dikategorikan sebagai Five Acid and Strong-Smelling Vegetables oleh biksu-biksu di Tiongkok dan Tibet.  Ada sebuah cerita yang beredar di kalangan biksu yang turut mendukung teori tersebut.

Pada suatu saat, ada sebuah Wanita paruh baya yang mencoba menipu sebuah biksu untuk mengonsumsi daging. Jadi dia menyiapkan sebuah hidangan yang sangat enak dan dia klaim sebagai makanan vegetarian. Padahal, dia selundupkan daging di dalamnya tanpa sepengetahuan biksu tersebut. Tetapi karena dia seorang biksu yang sudah terlatih indra penciumannya, dia tidak memakannya dan dibuang ke tanah. Keesokan harinya tersebut telah berubah menjadi bawang putih dan bawang Bombay. Oleh karena itulah Buddhist tidak mengonsumsi bawang.

Ada lagi alasan yang lebih logis. Herba seperti bawang putih, bawang Bombay, bawang merah, leeks, dan lobak merupakan aphrodisiacs, yaitu zat yang meningkatkan libido saat dikonsumsi. Apabila dikonsumsi dalam keadaan mentah, mereka dapat mengakibatkan kemarahan dan konflik internal di tubuh. Saat dikonsumsi dalam keadaan matang, maka dapat meningkatkan keingian seksual.

Bawang dan Budha

Selain itu dalam kitab Sutra, tertulis bahwa  nutrisi dalam sebuah makanan akan hilang apabila dimakan bersamaan dengan apa yang mereka anggap sebagai racun untuk tubuhnya (bawang). Mereka juga percaya bahwa mulut yang bau akan mengusir ruh baik yang ada di sekitar kita sehingga ruh jahat yang akan mengelilingi tubuh kita dan mereka sangat menghindari hal tersebut. Saat kita sedang memotong bawang, mereka akan mengeluarkan zar kimia yang akan membuat kita menangis. Hal tersebut dianggap oleh biksu sebagai racun sehingga mereka menghindari hal tersebut.

Tetapi mengapa mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama selain Buddha, pada saat mendengar atau mencoba makanan vegan atau vegetarian hal yang mereka tanya adalah ini pake bawang gak? Usut punya usut, ternyata stigma tersebut melekat di Indonesia karena orang Buddha yang tidak mengonsumsi bawang selalu menanyakan hal tersebut setiap ingin membeli sebuah makanan vegan atau vegetarian. Hal tersebut lah yang menjadi cognitive repetition.  Munculah sebuah stigma ilusi bahwa makanan vegan tidak boleh mengandung bawang. Padahal hal tersebut hanya berlaku bagi penganut agama Buddha yang mengikuti ajaran biksu terdahulu.

Cognitive Repetition

Secara perlahan, stigma tersebut pun melekat di kalangan masyarakat Indonesia sehingga apapun yang berbau vegan atau vegetarian tidak boleh mengandung bawang atau alium. Padahal bawang sendiri masih termasuk tumbuhan dan aman dikonsumsi. Memang, hanya beberapa saja yang percaya atas hal ini tetapi bagi pemain di makanan vegan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Cogntive Repetition adalah sebuah fenomena ilusi, dimana suatu hal yang diulang-ulang akan terasa benar dibandingkan mencari informasi sebenarnya tentang hal tersebut. Dikarenakan pertanyaan tersebut diulang-ulang dan banyak yang menjawab “Saya gak makan bawang”, maka hal tersebut seolah menjadi fakta bahwa vegan atau vegetarian tidak makan bawang. Faktanya adalah, hanya beberapa kepercayaan yang tidak mengonsumsi bawang.

Oleh karena itu, Meatless Kingdom menghadirkan produk dengan 2 varian yaitu bawang dan non-bawang sehingga bisa dinikmati oleh setiap kalangan, suku, kepercayaan, ras dan agama. Bahkan, dendeng manis asap kami dikategorikan sebagai makanan yang Allium Free sehingga bagi kalian penganut agama Buddha, atau memang sedang mengurangi konsumsi bawang, ini merupakan produk vegan yang sangat baik untuk kalian coba terlebih dahulu.

Sumber: Garuda
Image by: unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *